top of page

Apakah Berita Bikin Kita Depresi? | Kenapa Kamu Perlu Berhenti Mengonsumsi Berita

  • Jan 8, 2022
  • 6 min read

Updated: Jan 15, 2022


Adanya perkembangan teknologi membuat kita semakin mudah dalam menukar informasi yang sudah terjadi, sedang terjadi, ataupun akan terjadi di dunia ini. Saat kita menonton TV, Membuka sosial media, menonton YouTube, dimana-mana terdapat banyak sekali informasi yang bisa kita konsumsi kapan saja dan dimana saja. Salah satu sumber informasi ini yang paling populer yaitu berita.


Apa itu berita?


Berita adalah sebuah informasi yang sifatnya fakta yang sedang terjadi maupun sudah terjadi dan disampaikan melalui perantara media, baik itu media elektronik maupun media cetak. Penyampaian berita juga bisa melalui mulut ke mulut, tapi di artikel ini kita hanya akan membahas berita yang biasanya dikonsumsi masyarakat lewat media saja.


Kenapa kita menonton berita?


Kebanyakan dari kita suka mendapatkan berbagai informasi baru dan membagikannya ke kenalan kita karena ada yang namanya FOMO (Fear of Missing Out) atau takut ketinggalan dengan segala hal. FOMO ini lebih sering dialami oleh masyarakat muda yang aktif menggunakan sosial media dimana mereka dapat melihat jutaan rutinitas kehidupan manusia dengan mudah, yang justru malah membuat mereka semakin takut kurang update jika mereka tidak banyak mengonsumsi sosial media.


Sehingga sama seperti sosial media ataupun media lainnya yang serupa, berita juga dapat membuat kecanduan karena setiap kita membuka media favorite kita, otak kita memberi sinyal untuk meningkatkan hormon Dopamine, atau yang biasanya disebut sebagai "hormon bahagia" yang memberikan kita perasaan nikmat. Selain itu berita sekarang juga biasanya singkat dan padat, tidak seperti buku atau artikel yang perlu memakan banyak waktu dan tenaga untuk membacanya. Hal inilah yang membuat kita menjadi susah berhenti mengkonsumsinya.


Mengapa kita perlu berhenti mengonsumsi berita?


Mungkin sekarang kamu bertanya "Kan berita isinya informasi penting yang bikin wawasan kita lebih luas, jadi gapapa dong kalo kita kecanduan berita doang".


Memang banyak manfaatnya dari mengonsumsi berita seperti meningkatkan kesadaran publik, memberi informasi baru, membentuk opini publik, dan lainnya. Tapi tanpa kita sadari ada banyak juga dampak buruknya dari mengonsumsi berita. Bukan hanya adiksi saja yang berbahaya, tapi masih ada banyak lagi yang bisa memperparah kesehatan mental dan fisik kita tanpa kita sadari, dan karena inilah banyak orang yang memutuskan untuk berhenti mengonsumsi berita.




Salah satu contoh nyata orang yang berhenti menonton berita yaitu Rolf Dobelli dimana ia ceritakan pengalamannya di dalam sebuah TED Talk, dimana ia bereksperimen untuk berhenti mengonsumsi berita selama 30 hari, dan ia mengaku bahwa hidupnya terasa lebih bermakna dan lebih bahagia semejak dia berhenti mengonsumsi berita. Bahkan selama empat tahun terakhir dia memutuskan untuk benar-benar berhenti untuk menonton berita karena dampak positifnya yang ia dapatkan. (Link videonya ada di akhir post ini kalo kamu mau nonton full videonya)


Bagaimana berita merusak hidup kita?


Sebagai penjelasannya, berikut adalah beberapa alasan mengapa kamu juga perlu ikutan berhenti menonton berita;


1. Berita didasarkan atas rasa takut

Kalo kita perhatikan kebanyakan berita yang ada sejak dulu sampai sekarang ini hampir semua isi konten beritanya buruk semua. Mengapa begitu? karena secara psikologis manusia memiliki bias negatif yang kita peroleh sejak nenek moyang kita dulu. Otak kita sudah terprogram untuk melihat sesuatu yang menonjol seperti sebuah ancaman yang membuat kita takut, dan mengabaikan yang lainnya. Masalahnya bias negatif ini dapat membuat kita melihat dunia menjadi lebih buruk dari yang seharusnya.


Untuk membuktikannya, kita dapat mempraktikkan hal tersebut dalam sebuah eksperimen kecil berikut:


Misalkan kamu hanya dapat membaca 1 berita dari kedua berita ini, mana yang akan kamu baca terlebih dahulu?

Sekali lagi, jika kamu hanya dapat membaca 1 dari kedua berita berikut, mana yang akan kamu baca duluan?

Jika kamu seperti kebanyakan orang, kamu juga akan memilih berita yang di atas terlebih dahulu karena adanya bias negatif. Inilah mengapa kebanyakan berita memiliki konten berita buruk karena akan lebih laku daripada konten berita baik, sama seperti pepatah lama:

If it bleeds, it leads.

Sayangnya hal ini menimbulkan beberapa masalah lainnya yang akan dibahas pada alasan berikutnya.


2. Berita memicu Stress

Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), orang yang kebanyakan menonton berita buruk setiap harinya memiliki tingkat stress yang lebih tinggi daripada orang yang jarang menonton berita karena sering mengalami kekhawatiran akibat berita buruk tersebut. Terutama di saat pandemi virus seperti sekarang ini stress dapat mengubah pola tidur kita, mengubah pola makan kita, memperparah kesehatan mental, hingga sulit berkonsentrasi.


3. Menjadi racun bagi tubuh

Berita bukan hanya tidak baik saja untuk kesehatan mental kita saja, tapi juga tidak baik untuk kesehatan fisik tubuh kita. Saat kita stress, sistem limbik kita dapat terpicu secara terus menerus yang dapat merusak tubuh kita akibat terjadinya pelepasan hormon kortisol (hormon stress). Tingkat kortisol yang tinggi ini dapat mengganggu sistem kekebalan tubuh, menghambat hormon pertumbuhan, menimbulkan jerawat, dan masih banyak lagi. Sebuah peneliti juga menemukan, bahwa orang yang menderita stres memiliki risiko 63% lebih tinggi mengalami kematian dini, daripada mereka yang tidak mengalami stress ataupun memiliki tingkat stress yang rendah.


4. Membuat Depresi dan Cemas

Setiap kali kita mengalami atau mendengar tentang peristiwa traumatis, kita masuk ke mode stres. Kita mungkin mati rasa atau memiliki respons ketakutan yang terlalu aktif terhadap ancaman yang dirasakan. Fisiologi kita dipicu untuk melepaskan hormon stres seperti kortisol dan adrenalin.


Menurut sebuah artikel yang diterbitkan dalam Annual Review of Clinical Psychology, “jika stresor terlalu kuat dan terlalu persisten pada individu yang rentan secara biologis karena faktor usia, genetik, atau konstitusional, stresor dapat menyebabkan penyakit, seperti depresi dan kecemasan, masalah pencernaan, sakit kepala, penyakit jantung dan gangguan dalam memori dan konsentrasi. Hal ini terutama terjadi jika orang tersebut memiliki sedikit sumber daya psikososial dan keterampilan koping yang buruk."


5. Membuang-buang Waktu

Misalkan kamu membaca koran 15 menit setiap pagi, kemudian 15 menit saat makan siang dan 15 menit sebelum Anda tidur. Lalu ditambah lima menit lagi di sana-sini saat kamu sedang bekerja, lalu hitung juga waktu pengalih perhatian dan pemfokusan kembali, kamu setidaknya sudah kehilangan setengah hari dalam seminggu. Bagaimana jika waktu yang terbuang tadi diganti dengan mencari hobi yang baru, membaca buku nonfiksi, menulis jurnal, bermeditasi, atau berolahraga dan kegiatan lainnya yang dapat berguna di kemudian hari? Bukannya lebih baik seperti itu?


Bagaimana cara berhenti menonton berita?


Mungkin sekarang kamu juga ingin ikutan berhenti mengonsumsi berita setelah mendengar beberapa alasan tadi, tapi masih bingung bagaimana caranya berhenti mengonsumsi berita karena kamu sudah terbiasa setiap hari menonton beritaatau bahkan sampai “kecanduan” mengkonsumsi berita. Nah untuk membantu hal tersebut, berikut adalah beberapa cara ampuh yang dapat kamu lakukan untuk menghilangkan kecanduan menonton berita:


1. Membuat batasan secara perlahan

Kalo kamu biasanya sehari bisa 3-5 kali membaca berita, kurangilah menjadi 2 kali saja dalam sehari sampai kamu terbiasa, lalu kurangkan lagi jadi 1 kali per hari sampai terbiasa, lalu 1 kali saja dalam 2 hari, dan seterusnya sampai berhenti. Intinya mulai perlahan-lahan saja agar terbiasa dulu, jangan dari yang biasanya 3 kali sehari langsung berhenti gitu aja, pasti susah wkwk


2. Berhenti menonton TV

Kalo kamu punya kebiasaan menonton TV saat tidak ada kerjaan, kemungkinan besar kamu malah menjadi nonton berita karena ada banyak channel berita di TV. Jadi lebih baik kamu beralih ke kegiatan lain atau hanya menonton TV ketika kamu tau mau nonton apa.


3. Hapus akses ke berita

Cara berikutnya yaitu kamu bisa menghilangkan segala akses yang biasa kamu pakai untuk nonton berita. Kalo kamu suka nonton berita di YouTube, unsubscribe lah dari channel yang biasa kamu tonton berita. Kalo kamu biasa membaca berita dari sebuah aplikasi, hapuslah semua aplikasi beritanya. Kalo kamu biasa baca berita dari koran, berhentilah membeli koran, dan seterusnya.


4. Lakukan hal yang produktif

Cara yang terakhir ini lumayan ampuh buat kamu yang hanya melihat berita kalo lagi bosen. Jadi kamu perlu perbanyak hal yang produktif seperti berjalan-jalan, mengobrol dengan teman atau keluarga, mendengar podcast, membaca buku, atau hal lainnya yang dapat menjauhkan pikiran kamu dari kecemasan akibat berita.


Bisakah kita hidup tanpa menonton berita?


Lalu sebagai penutup artikel ini, mungkin sekarang kamu juga ingin ikutan berhenti mengonsumsi berita setelah mendengar beberapa alasan tadi, tapi masih bertanya-tanya “bisakah aku hidup tanpa menonton berita lagi?”


Sayangnya Saya tidak bisa kasih jawaban pasti dari pertanyaan ini, karena hal ini tergantung pada masing-masing orang tersebut. Misalnya, orang yang tinggal di pedesaan atau di perkampungan yang masih jarang menggunakan alat elektronik seperti komputer, TV, atau HP, mungkin tidak perlu menonton berita karena mereka sudah memiliki semua kebutuhan mereka disitu dan tidak perlu mendengar kabar dari dunia luar untuk bisa terus hidup. Namun bagi seseorang yang pekerjaannya perlu melihat berita terus-menerus seperti orang yang mengurus saham, seorang pengusaha, dan sebagainya mungkin tidak dapat bekerja dengan maksimal jika tidak mengetahui info terbaru dari sekitarnya lewat berita.


“Lalu bagaimana jika ada berita besar yang perlu diketahui semua orang? Apakah bisa kita tau tanpa adanya berita?”


Jawabannya jelas bisa, karena informasi seperti itu akan mudah tersebar. Ketika ada kejadian yang besar seperti dulu saat mulai pandemi, pasti kita bisa mengetahuinya lewat pembicaraan orang lain, tetangga, teman, keluarga, atau dari sumber media lainnya. Saya berani nulis seperti ini karena Saya pribadi juga udah 5 tahun lebih gak konsumsi berita tapi tetap bisa mendapat informasi penting seperti itu lewat orang-orang terdekat. Rolf Dobelli juga menyebutkan hal yang sama di pembicaraan TED Talk-nya dia.


Kesimpulan


Informasi dari berita itu penting bagi masyarakat agar dapat terus berjalan lancar, khususnya dalam masyarakat yang modern karena dapat membuat kita terus terhubung dan terinformasi. Tetapi di dunia dimana kita dikelilingi oleh berita setiap saat, penting bagi kita untuk menyadari bahwa kebanyakan berita memiliki bias negatif yang dapat memperparah kesehatan mental kita jika kebanyakan dikonsumsi. Jadi marilah kita kendalikan konsumsi berita kita sebelum berita yang mengendalikan kita.


Thanks for reading and stay open minded!


Sumber Referensi:


Penjelasan umum mengenai berita:


Bias negatif manusia terhadap konten negatif:


Pengaruh berita terhadap kesehatan mental:


Berita membuat Depresi dan Cemas:


Alasan Rolf Dobelli berhenti mengkonsumsi berita:


Cara berhenti mengkonsumsi berita:


Video TED Talk Rolf Dobelli:


Comments


Pikiran Terbuka

Pengembangan Diri & Spiritualitas

Subscribe untuk tumbuh bersama <3

Thanks for submitting!

Blog by Patrick Hawking

Mail: terbukapikiran@gmail.com

WhatsApp: 0895336784101

© 2023 by Tammy Gallaway. Proudly created with Wix.com

bottom of page